Armpit Best Friend is Deodorant

Tulisan ini dimulai dengan sense of jealousy terhadap orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan aroma/”bau” badan, karena I’m not that lucky :))

Saya masuk digolongan manusia yang tubuhnya butuh another aroma distractions, dan role itu presentasenya 50-50 antara Deodorant dan parfum.

Sepintas, jadi keinget sama masa-masa baju sekolah jadi kuning di bagian ketiak gara-gara percampuran antara deodorant dan keringat, hahahha, padahal dulu kayaknya udah pake merek yang paling keren deh tuh, Mark & Spencer.

Btw, sekarang deodorant yang ada di pasaran masih meninggalkan stain kuning nggak sih di baju?

Jika parfum lebih berfungsi menambah aroma harum pada tubuh, deodoran lebih berfungsi sebagai pengurang atau penghilang aroma tubuh yang kurang sedap, dan semenjak desas desus bahwa penggunaan deodorant disinyalir dapat menyebabkan kanker, saya udah mulai cari alternatif lain – ini bahkan sebelum saya mulai giat mengganti semua produk menjadi natural atau organik.

deocrystal

Saya pernah coba produk tawas dari L’occitane ini, tapi di saya, efek menyerap keringat produk ini kurang ok. Belum lagi tawas membutuhkan proses sebelum digunakan, basahin sedikit dengan air sampai agak lembab baru bisa digunakan.., kan agak repot ya kalau semisal lagi nggak deket sama air tapi odor emergency terjadi. Hihihihi..

Lalu, sewaktu di UK, saya coba pakai deodorant dari dr. Organic, seneng sih sebenernya dengan dr. organic ini, tapi apa daya di sini ndak ada yang jual, dan semenjak ada peraturan baru dari BPOM, masukin produk kecantikan dari LN sudah tidak semudah dulu.

dr organic deodorant

Permasalahan muncul ketika si dr. organik ini udah mau abis, saya cukup belingsatan nyari deodorant yang aman. Pernah lihat deodorant Young & Living, tapi meringis waktu tau harganya.., sedikit kemahalan buat budget saya – walaupun jika pada saatnya dr. organik beneran abis dan saya masih belum nemu juga penggantinya, mau nggak mau saya beli juga tuh Young & Living :))

Namun sebelum itu terjadi, saya dipertemukan dengan deodorant Bye-Bye Odor dari artisan lokal Peek.Me Naturals.

unnamed

Sewaktu mencoba testernya di DongengHutan#4, saya optimis Bye-Bye Odor bisa menjadi teman baik ketiak saya, dan optimisme tersebut dijawab dengan bukti selama pemakaian yang hampir berjalan dua minggu ini. Di saya,  bisa tahan sampai sekitar 14 jam – Saya malah ragu sama deodorant yang claim bisa bertahan 48 jam, serem mikirin apa aja bahan kimia yang dipake, hiiii…

Bye-Bye Odor berjenis kering dengan aroma segar yang dihasilkan dari perpaduan lebih dari 5 jenis 100% essential oils, dan meskipun belum ada sertifikasi organik (which I know how hard it is to earn one), tapi Peek.Me Naturals meyakinkan di website mereka jika produk ini bebas dari:

  •  aluminum (may contribute to the development of breast cancer and Alzheimer’s disease)
  •  paraben (possible cause of hormonal problems)
  •  propylene glycol (neurotoxin and skin irritant)
  •  phthalates (disrupts hormone receptors)
  •  SLS (skin irritant)
  •  fragrance (allergen and purely chemical compounds)
  •  triclosan (potential carcinogen)

Sungguh melegakan yaa mengetahui produk ini aman dari semua kimia-kimia serem itu. Semoga kedepannya produk-produk mereka bisa disertai dengan sertifikasi organik. For me personally, that would be Awesome!

Harga online 70rb untuk 15gr, kalau ditakar kemungkinan bisa untuk pemakaian 1-1 1/2 bulan.

With this happy experiment and experience, saya cukup percaya diri produk mereka yang lainnya tidak kalah baikdengan yang sudah saya gunakan.

So I’ll def going to check their website for more products, and you should too.

Challenge of the week.., Make your armpits happy, switch your commercial deodorants to the more Natural/Organic ones 🙂

Happy Green, Organic Freaks!

 

 

Kenapa tiba-tiba jadi rajin?

Rajin menulis dan mengupdate blog xD – padahal semenjak bikin blog ini 2 tahun yang lalu, baru 23 tulisan yang saya berhasil posting hingga saat sekarang.

Awal bikin blog ini di medio September 2013, sebelum ulang tahun Langit yang ke tiga tahun dan bertepatan dengan waktu plesir ke Bali selama 3 bulan, pada saat itu tujuan blog baru adalah untuk menceritakan pengalaman hidup di sana, ternyata enggak kesampean juga rencananya.., 3 bulan berjalan hanya menghasilkan satu tulisan saja >_<. Begitupun sebelum berangkat ke Bristol, harapan mau rajin nulis tentang keseruan hidup di negara orang, ujungnya sih kenyataan juga sebagai hasil akhir. Hahahahha.

Lumayan banyak sebab yang saya pikir menjadi alasan kenapa saya jarang menulis lagi di blog. Pertama pemikiran bahwa pada dasarnya saya ini memang pemalas, malas kerja, malas nulis, males capek :p. Seperti di Bristol, kalau (keliatannya) saya masak atau doing house chores, sebenernya  itu bukan karena saya rajin, tapi karena memang terpaksa harus gitu. *gubrak. 

Sebab kedua karena saya merasa uninspired buat menulis, padahal dulu waktu jaman Multiply, saya termasuk super rajin posting tulisan – which made me think that sadness must have got something to do with it, dulu kan jaman-jaman galau karena abis di tinggal mantan pacar dan juga galau sama pacar baru yang ternyata pacarnya orang lain *muka meringis, jadi blog itu semacam tempat curhat, penyaluran hormon dan terapi. Hihihi.., tapi konon, kesedihan itu disinyalir memang bisa lebih memicu kreatifitas seseorang. Ceunah, hehehe..

Kemudian ada masa-masa saya pikir saya nggak rajin nulis lagi itu dikarenakan kemanjaan saya yang susah berpaling dari menulis cara konvensional, yaitu pake laptop windows yang ada bunyi merdu keypad – sayangnya laptop windows saya udah terlalu urdu untuk bisa nyari sinyal wifi buat posting blog, saya pun seperti merasa “kesusahan” kalau harus nulis pake tablet (walaupun ada tambahan keyboard), apalagi handphone, bahkan pakai MacBook Pro si suami aja saya reluctant. Pokoknya mind set saya’pasti akan rajin nulis lagi kalau pake laptop windows’, titik :p

Namun, di waktu seminggu belakangan ini saya mendadak kembali menjadi produktif menulis. Cukup mengherankan juga darimana datangnya drive nulis ini.., tapi berbagai alasan di atas jadi bisa terpatahkan loh.., karena..

Ternyata saya enggak sepemalas itu dan ternyata saya bisa nulis tanpa stimulasi rasa sedih atau galau, pun ternyata saya (walau terkesan bodoh) bisa juga nulis blog pake macbook, bahkan saat ini saya sedang pake wordpress di iphone buat ngetik 😁. 

Lalu apa dong yang bikin dulu ‘nggak bisa’ dan sekarang bisa?, hhmmm…, mungkin karena beberapa kombinasi faktor juga, salah satu nya adalah kombinasi ‘nyuekin’ anak dan ada bantuan tenaga domestik di rumah xD.

Walaupun ini agak kurang solid argument nya, karena banyak banget ibu-ibu lain yang aktif menulis padahal nggak pakai helper dan punya anak segabrek, like seriously dude.., It’s quite intimidating actually.., how come mereka pada bisa??, How on earth??!,…or perhaps it’s because they’re not from around here.., aliens who have the ability beyond ordinary mommy like me.., well that explains! – monolog iri.

Tapi ya sudahlah, saya bebas ngasih pembenaran buat sikon saya ya kan..*maksa. LOL

Dahulu, walau ada bibi seperti sekarang, kondisi buat nyuekin nggak bisa diterapkan, karena Laut masih nyusu ASI dan demand nya dia krezi banget, sampe saya ikutan mau krezi, tabiat si adek Laut yang cepet cranky juga menambah kemeriahan suasana. Hahaha.., maka dari itu, kalaupun ada waktu luang nggak nyusuin, saya lebih milih buat leha-leha

Lalu selain kombinasi lethal di atas, ada faktor diri, yang mana saya, dalam hal menulis (ternyata)  hanya bisa mengerjakan hal satu itu saja tanpa multitasking skill yang diklaim milik wanita. I have it in me kok.., I mean I’m good at doing things that requires multitasking skillbut it’s suddenly disappear kalau sudah menyangkut menulis. Saya jenis Ibu-Ibu blogger yang butuh konsentrasi tingkat tinggi dimana distraction secuil upil bisa bikin mood buyar. Kayak nulis apaan aja yak.., padahal buat nulis blog doang, gimana kalau nulis makalah atau disertasi ?!, ngungsi ke Goa x))

Oh mannn.., the more I write, the more I realize that I’m just full of shit. Intinya sih banyak alesaaaann aja kaliii gueee….

😀

 

Helping tools

toxic-personal-care-products

Knowing all the harmful ingredients can be overwhelming, whilst reading the ingredients labels can be too.

Unless you have a gigantic memory inside your head, it is one  difficult task to memorize all those toxic ingredients. Therefor we need help, and thank God – or thank those people who initiated it,  there’s a solution, it is called technology :))

Ever since my enthusiasm on organic started, I began to search the reliable information sources, and here I share some of them.

For the all aspects of organics – from environment, foods, up to personal care/beauty product, we can get the latest informations and scientific researches and findings from EWG (environmental working group). EWG is a non profit organization dedicated to protect human health and the environment, influence policy to create a cleaner, greener, and healthier world. I strongly recommend you to visit this site.

Another reliable source is Savecosmetics, it is a campaign project of breast cancer fund, with aim to protect the health of consumers, workers and the environment through public education and engagement,corporate accountability and sustainability to eliminated dangerous chemicals. They also put on a list of chart summarizes the public-facing cosmetic safety policies, and restricted substances lists (RSL’s) of world’s 7 biggest cosmetic and personal care companies, such as P&G and Johnson & Johnson, Loreal and Unilever.

As to know how green or not personal care/beauty products are (one without organic certification), there are these handy tools. Three free apps that can be downloaded on your mobile phones or tablets, Healthy Living, Think Dirty and GoodGuide.

Healthy living

 This apps previously named skin deep developed by EWG. Skin deep only covers cosmetic & beauty products, whilst Healthy Living covers extensive range from beauty, foods, to households cleaners. It has search engine, browse by category and barcode scan features.

GoodGuide

GoodGuide apps is quite similar with what EWG has developed – with better and catchy design.  This apps covers from foods, households to personal care inside U.S with more than 200,000 products on their database.

Think Dirty

Last one is Think Dirty, a new comer launched in late 2013.There is a sign in feature which I think is cool, ‘cos then I know what’s my bathroom shelf scores :)) – it will generate a score based on what kind of personal care products we have in our bathroom, it’s what makes this apps rather different from the previous two. With 449,430 products on its database, this new comer surely catching up with its predecessors.

Below, I input two products that are commonly used in Indonesia on those three apps .

 
Reverse clockwise : Healthy Living – Think Dirty – Good Guide

img_3105

Top to bottom : Think Dirty – Healthy Living – Good Guide

As you can see on above pictures, every apps gave different scores for the same products. This is because each have their own standards. Do kindly read what kind of methodologies they are using, how they collected their data and how they designed their rating systems. In the end it’s basically down to your own preferences on which apps you think suits and accommodate you best.

I have to point out that in Indonesia, this apps perhaps only comes handy or works best for imported products or “sister” – similar products from multi billion dollar cosmetic and personal care companies :(, but it still is something very useful, and I very much appreciate all the helps:)

Sekaranh cobalah di install dan di buka-buka link yang saya kasih di atas ya. Selamat membaca dan selamat semangat nge search dan scan produk-produk di kamar mandi dan di atas meja rias kalian, hihihi *emoticon singsing lengan baju x)

 

(Mencoba) menjadi

Organic Enthusiast.

Saya selalu menulis itu di setiap bio media sosial yang saya miliki. Because I am proud to be one.., walaupun antusiasnya baru sebatas pada penggunaan produk personal care dan households saja – saya belum sepenuhnya mengganti household cleaner saya dengan yang organik – walau sudah niat jika nanti kembali ke apartemen semua harus sudah organik/natural 🙂

Kemarin malam mikir-mikir apa yang membuat saya dulu mulai tertarik sama organic beauty products ini 3 tahun yang lalu. Kayaknya sih karena saya liat instagram seseorang yang pakai produk organik, dan dari situ saya mulai banyak baca untuk cari tahu, dan langsung parno.

Keparnoan itulah yang bikin saya bener-bener nggak mau lagi membeli produk-produk dengan kandungan kimia yang berbahaya bagi tubuh saya dan keluarga, specially for my kids.

Karena tahukah anda?, bahwa hanya butuh waktu 26 detik bagi bahan-bahan yang terkandung di dalam produk personal care yang kita pakai untuk sampai di blood stream. Berbeda dengan makanan yang kita konsumsi, jaringan kulit kita tidak memiliki saringan untuk mengurai toxic dari bahan-bahan tersebut.

26 seconds

http://www.slideshare.net/BeautiflyPure

 

Mengetahui fakta tersebut, adalah bijaksana kalau kita mulai memperhatikan jenis produk personal care yang kita gunakan aman atau tidak, apalagi jika membaca kutipan artikel dan fakta lain di bawah ini.

A study published in the American Journal of Public Health looked into the skin’s absorption rates of chemicals found in drinking water. It showed that the skin absorbed an average of 64% of total contaminant dosage.1 Other studies found the face to be several times more permeable than broad body surfaces and an absorption rate of 100% for underarms and genitalia.2 And another peer-reviewed study showed 100% absorption for fragrance ingredients.3  (http://www.downtoearth.org/health/general-health/your-skin-it-absorbs)

Sebagian besar produk personal care konvensional yang biasa kita temui di rak supermarket mengandung bahan kimia yang berbahaya. Dari beberapa studi yang telah dilakukan, didapat fakta bahwa beberapa banyaaaakkk kandungan kimia (+ dari 10,000 kandungan kimia) yang ada di dalam personal care bersifat karsinogen (zat penyebab kanker), pesticides, reproductive toxins, and hormone disruptors.

Pernah berpikir tidak?, kenapa dokter kulit kalau mau kasih resep obat biasanya nanya sedang hamil apa enggak. Itu karena fakta tadi, bahwa kandungan bahan yang kita oles di kulit langsung diserap oleh darah, dan bagi Ibu hamil, kandungan bahan-bahan tersebut juga akan diserap dan dibawa oleh umbical cord atau tali pusat bayi ;(

Sounds scary right?

It’s good if you could find personal care products that are organic and certified. But if not, don’t be too stress. Jadi organic enthusiast juga tidak lantas menjadikan saya organic freak kok. Saya masih bisa kompromi sama produk yang saya rasa aman walaupun tidak ada sertifikasi organiknya, selama di label dengan jelas mencantumkan bahwa produk tersebut tidak mengandung bahan berbahaya seperti di bawah ini – The most toxic 10.

toxic10

http://www.chemicalfreelife.tumblr.com

Sebagai tambahan, fluoride juga bahan yang patut dihindari di dalam pasta gigi ya, concerns nya sama dengan kandungan lainnya di atas.

Satu hal lagi yang bisa menjadi pertimbangan beralih, selain meningkatkan awarness terhadap tubuh kita dan anak-anak kita, penggunaan produk organik juga membantu meningkatkan awarness terhadap kelangsungan bumi yang kita pijak ini.

Now that sound right!

Salam hijau 🙂

Sertifikasi Organik (Personal Care/Cosmetic)

Cosmetic natural and/or organic standards have been developed by different certification bodies. However, none of these standards or guidelines are specifically backed by law. They are all different, although the difference may be minor. The aim is to use a high proportion of organic ingredients, natural ingredients or ingredients chemically derived from natural ingredients. They all restrict the types of chemical processes that may be used, specify which synthetic ingredients may be used and prohibit the rest” (http://www.ctpa.org.uk/content.aspx?pageid=431)

Begitulah jabaran yang cukup mewakili sebagai pembuka untuk tulisan kali ini. Dengan maraknya produk personal/beauty care saat ini, banyak label berlomba menuliskan kata Natural atau Organic di produk mereka yang pada kenyataannya tidak seperti itu.

Disitulah fungsi dari sertifikasi organik ini bagi konsumen, yaitu assurance – jaminan bahwa produk yang kita beli atau pakai benar seperti yang tertera. Bagi saya pribadi, sertifikasi organik cukup memegang peranan penting bagi saya dalam memutuskan membeli sebuah produk personal care. Diyakinkan itu emang bikin hidup lebih tenang sih.. :))

Kendalanya di Indonesia, agak sulit untuk mendapatkan produk-produk personal care organik yang bersertifikasi (seperti gambar di bawah). Jadi sebagai konsumen memang harus pandai-pandai melihat label kemasan dan membaca dengan seksama apa isi ingredients produk tersebut.

Organic certifications

taken from http://www.anagoesgreen.co.uk

Saat ini ada beberapa sertifikasi organik yang sudah diakui oleh dunia (organik). Beberapa organisasi sertifikasi Eropa sepakat untuk membuat satu payung untuk standar/regulasi organik, yaitu COSMOS.

Salah satu yang tergabung di dalam Cosmos adalah Ecocert – organisasi sertifikasi organik terbesar di dunia, beserta dengan Soil Association. Sedangkan USDA, adalah sebuah badan sertifikasi organik Amerika di bawah US Departement of Agriculture dengan NOP (National Organic Program) yang bernaung di dalamnya. Sedang dari negeri Kangguru, ada Australian Certified Organic sebagai certification body yang trustworthy.

Standar dari organisasi tersebut di atas tidak sama satu dengan yang lainnya, namun perbedaan tersebut hanya perbedaan yang minor. Sebagai contoh, basic principles dari Ecocert di bawah ini bisa menjadi gambaran standard sertifikasi organiknya.

1. The use of ingredients derived from renewable resources, manufactured by environmentally friendly process. Ecocert therefore checks:

  • The absence of GMO, parabens, phenoxyethanol, nanoparticles, silicon, PEG, synthetic perfumes and dyes, animal-derived ingredients (unless naturally produced by them: milk, honey, etc.).
  • The biodegradable or recyclable nature of packaging.

2. A minimum threshold of natural ingredients from organic farming to be reached to obtain certification:

  • For the natural and organic cosmetic label – A minimum of 95% of all plant-based ingredients in the formula and a minimum of 10% of all ingredients by weight must come from organic farming.
  • For the natural cosmetic label – A minimum of 50% of all plant-based ingredients in the formula and a minimum of 5% of all ingredients by weight must come from organic farming.

Selain standard ingredients yang harus dipenuhi persyaratannya, inspeksi reguler juga dilakukan guna menjaga  “kontinuitas” label organik tersebut. Mulai dari sumber ingredients hingga proses pembuatan dan pengemasan.

Although, ada beberapa produsen yang tidak berpikiran serupa. Mereka merasa label sertifikasi ini hanya menambah biaya produksi yang akhirnya dibebankan kepada konsumen dan uang yang  dikeluarkan juga tidak lebih hanya diperuntukan untuk membiayai organisasi sertifikasi – so they could still make money. Intinya sih mereka beralasan, selama mereka yakin dan bisa meyakinkan konsumen bahwa produk mereka itu benar organik, maka label is just a label.

Namun, menurut saya, perusahaan atau pembuat produk personal care atau kosmetik organik yang mendaftarkan produk-produk organik mereka untuk disertifikasi, menunjukan keseriusan mereka dalam meyakinkan konsumen bahwa produk yang mereka buat memang bisa dipertanggung jawabkan keorganikan ataupun kenaturalannya, dan hal itu menjadikan produk organik mereka layak untuk dihargai lebih. Lagipula, bagi konsumen, label juga membantu mempercepat proses pemilihan sebuah produk tanpa harus mincing-mincingin mata liat ingredients :p

Semoga di Indonesia makin banyak pilihan produk organik bersertifikasi, dan juga semakin banyak produsen lokal yang mendaftarkan produk mereka untuk sertifikasi. Tapi yang lebih penting, semoga negara semakin peduli dengan hal ini, mendukung komunitas organik dan membuat badan sertifikasi organik untuk cosmetic/personal care. 

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat dan berguna bagi yang membaca, dan bikin kita semakin aware sama produk kecantikan yang kita aplikasikan ke kulit kita dan keluarga kita.

Salam hijau 🙂

SHAMPOO: John Masters Scalp Spearmint & Meadowsweet VS Phyto Phytoapaisant

Like most people, my skin and hair problem started when I was a teenager, and like others, hormones certainly took huge part.

In regards with my hair, split ends, overproduced sebum and dandruff were three of my worst enemies.

As I recall, from my teen days my hair always long, never above shoulder lines, and never done anything with it too – in terms of dying or coloring. I cut my hair short 2 years a go when I had problems with lice – embarrassing to admit but it happened ;( – thanks to my nanny at that time who had it first. Anyways.., that problem solved in only a matter of days :D. But it’s different story with my excessive sebum and dandruff.

My lack of knowledge about hair and scalps led me to wrong treatment. It took me 20 years to finally know that best way to treat my hair is with sensitive or soothing scalps treatment shampoo, and not with anti dandruff shampoo.

To be honest, I was just gambling. I skipped all the anti dandruff shampoo – because it always results in big disappointments, and I began to search for shampoo that focuses more on soothing the scalps. Why boy I was a winner!

John Master Organics Scalp Spearmint and Meadowsweet Shampoo for me is a life changer. I no longer have itchy scalps and my dandruff decreased in a very significant level.


The “downside” of this shampoo?, as predicted, it doesn’t lather much. Don’t expect results like conventional shampoo, cause you’d be disappointed.

But you’ll get used to it thou.., because on your second showers you’ll notice the results and doesn’t lather much suddenly was out of the window 🙂

And another downside for me is how fast I emptied my bottle -_- (although I spilled some on my (rent) car compartment when we’re traveling to London, hehehe. It isn’t the cheapest shampoo around too,  £18/bottle.

After I finished with my John Master’s bottle, I tried another good review shampoo for sensitive scalps, Phyto Phytoapaisant.

I’m impressed with this shampoo too. It does wonder for my hair like John Master, only this one lathers well, almost like conventional shampoos. I like the bottle, it’s made out of hard tin with a cap, spill out accident is no longer an issue. The price is slightly cheaper than John Master, £13,5/bottle.

It has masculine scent, which could be a downside if you’re not a fan.

But do keep in mind, that organic shampoos tend to make hair (feels) dry – although Phyto claimed it’s not gonna happened with their products – but it did happen to me.

So in my hair case, conditioner is essential – never on the hair roots/scalps thou’.

Since this is sort of like a “competition”, I have to pick a winner. So I choose Phytoapaisant over John Master, with two reasons.., it’s cheaper and turns out, my “conventionalist” side screams “lathers matters”!  :)) – in busa we trust!, hahaha..

Hopefully you find this article helpful and will see the same good results after using these two.

* I actually wrote this when I was still in Bristol, and now I’m back in Indonesia. Can’t seems to find one who sells John Master, and Phytoapaisant is crazily expensive here!!, £31/bottle. WTH!

Buying online from outside Indo isn’t an option too, since several months ago, the government decided that skin/beauty care products – basically everything that you applied to your skin, should have BPOM approval.

Bummer!

kindergarten these days

Bagi para orang tua di luaran sana yang sedang browsing cari informasi sekolah dan pake keywords yang sama dengan saya “TK di Bintaro”, mungkin postingan saya ini bisa cukup membantu. 

Sebelum masuk ke pokok “permasalahan”, ada baiknya saya jelaskan kondisi saya dan keluarga ya..

Langit, anak saya yang pertama akan masuk di TK A pada tahun ajaran 2016/2017, dan Laut adiknya, juga akan masuk di kelas prekiddie/preschool di tahun ajaran yang sama.

Rencana kedepan kami akan pindah ke Bintaro atau Veteran (rumah idaman yang selalu tertunda), tapi sementara ini, kami masih akan kembali menempati apartemen di Senayan sampai nanti unit kami terjual. Jadi marilah kita songsong hari2 kedepan Senayan-Bintaro setiap pagi 😀

Btw, kenapa saya pakai kata masalah?, karena memang (ternyata) memilih sekolah anak itu merupakan sebuah problem/polemik batin…, hahahhaha

Gimana enggak…, dengan banyaknya variasi preschool dan TK yang ada saat ini, tentu bikin orang tua keblinger dan harus pandai2 mencari informasi serta menyaring dan menyortir di waktu yang bersamaan.

Bismillah dan Inshaallah jadi pegangan idup banget..hihihi.

Now about the schools. Sedari bulan Desember – Januari kemaren, saya survey ke beberapa sekolah di seputaran wilayah Veteran-Bintaro. Berikut ulasannya part 1 nya dan sekolah mana yang akhirnya saya pilih..

1. Sekolah Bumi Bambini

Jl. Kihajar Dewantara No.6x, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15413. Tlp: (021) 74714352

image

Kesan pertama begitu turun dari mobil seneng liat layout sekolahnya yang spacious. Di depan ada semacam tempat bermain terbuka dan di samping kanan gedung juga ada beberapa alat permainan. Lalu di belakang ada kolam renang yang cukup besar (namun sayangnya kolam renang ini disewakan juga untuk umum). Untuk ruang kelas nya sendiri buat saya tergolong sepi. Ornamen karya sepertinya kurang untuk menstimulasi, dan kondisi pencahayaan yang kurang, begitupula dengan ruangan perpusatakaannya. Nilai kebersihan 7 dari 10, bukan sebuah nilai yang tinggi jika kita berbicara mengenai tempat keseharian anak2 akan bermain.

Masuk sekolah ini tidaklah mudah.., in terms karena banyak peminatnya dan slot kursi yang ditawarkan tahun ini untuk calon murid baru (bukan dari PG Bumi Bambini) hanya 2 kursi >_<. But even if they had more space, I don’t think this school would suitable for Langit & Laut.

2. Sekolah Ibu Kelinci

Jl. Merpati Raya Ciputat – Sawah, Sing Asri Plaza 2 Blok A-31-32, Banten 15413

image

 Lokasinya tidak jauh dari Bumi Bambini. Sedikit masuk ke dalam jalan kecil, namun di depan Sekolahnya terdapat lapang kosong yang bisa dijadikan lahan parkir.

Dari luar juga nampak gerbangnya tidak terlalu besar, tapi setelah masuk akan terlihat kalau bangunannya berbentuk L dan termasuk bangunan baru, kalau tidak salah ada 5 ruang kelas dan 1 ruang untuk makan bersama dan di tengah2 ada taman kecil untuk anak2 bermain. Untuk pencahayaan sepertinya cukup, walaupun sepertinya mereka berusaha untuk mendapatkan cahaya dari sinar matahari luar, tetapi hadap ruang kelas nya kurang mampu mengabsorb cahaya matahari dan butuh tambahan sinar lampu yang cukup banyak.

Bahasa pengantar menggunakan Bahasa Indonesia, dan menekankan pada aspek Budaya Indonesia.

Sewaktu saya datang kesana, dikatakan sudah tidak ada slot untuk kelas PG ataupun TK A. Ternyata sekolah ini termasuk favorit juga di seputaran area nya. Jadi ya off to the next stop.

3. Global Jaya

Emerald Boulevard, Bintaro Jaya Sektor IX, Kec. Tangerang, Banten 15224. Phone:(021) 7457562

image

Nah, kalau sekolah yang satu ini beneran sekolahan. Maksudnya dari segi bangunan juga udah “mengintimidasi”. Wajar aja sih, soalnya Global Jaya sekolah yang mengakomodir tingkatan PG hingga SMA. Fasilitas nggak perlu ditanya lagi lah.., dari tempat bermain, kolam renang sampe lapangan bola juga ada.., hehehe.

Bahasa pengantar menggunakan Bahasa Inggris. 

Selayaknya sekolah dengan kurikulum IB, maka harganya pun cukup bikin nelen ludah. Sebagai gambaran, untuk TK itu SPP nya 15 juta untuk 1 term (9-10 weeks) :p

Secara anak 2 dengan jarak hanya 11 bulan, maka rasanya yang satu ini skip dikarenakan hitungannya nggak match sama kantong. Hihihihi..

4. Bakti Mulya 400 (BM 400)

Jl. Gedung Pinang, Kebayoran Lama, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12330

image

I actually like this school. Selain dari segi jarak yang paling terdekat dari Senayan ataupun Veteran, TK BM ini punya banyak kelebihan yang bikin sekolah ini masuk di 2 besar pilihan saya dan suami.

Gedung sekolah yang bagus, kebersihan yang baik, punya kolam renang sendiri (khusus TK), pengajaran agama dasar (iqro, shalat dhuha, dst), dan moving class system (Sentra Kelas) yang bikin saya cukup kesemsem.

Bahasa pengantar bilingual, komposisinya 50:50 -> Indonesia – English. Satu kelas terdapat 2 guru, 1 bahasa Indonesia 1 bahasa Inggris, dengan jumlah anak max. 20 anak. 

Uang pangkal sekitar 19 juta dari PG hingga lulus dari TK B, dengan SPP 1,2jt, dan tambahan biaya POMG serta pensi dengan total 800rb/tahun.

Namun begitu akhirnya BM400 ini terkalahkan dengan si TK no. 5 di bawah ini..

5. Sunflower Preschool

Bintaro Sektor 9, Jl. Titihan Blok S No.02, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15224. Phone:(021) 7457204

image

Berbentuk seperti rumah besar, Sunflower (kalau saya tidak salah ingat) punya sekitar 10 ruang kelas dan 1 ruangan besar untuk Montessori dan juga Library. Di belakangnya terdapat halaman hijau yang cukup luas – walaupun nggak seluas yang saya harapkan.

Banyak ornament2 art dan prakarya anak2 yang ditempel di dinding sehingga membuat suasana lorong kelas meriah. Ruangan kelas tidak besar, tetapi ada beberapa ruang kelas yang memiliki balkon sehingga kegiatan mengajar pun kadang dilakukan di sana. Penerangan juga sangat baik dan yang terpenting bersih.

Sunflower mengadopsi metode Montessori dengan dibarengi dengan metode pembelajaran lainnya. Satu kelas 2 teachers dengan max anak 20.

Uang Pangkal 11,4jt, dan SPP preschool 1,65jt (4x seminggu), 1,75jt (5x seminggu). SPP untuk TK A 1,850jt & TK B 1,950jt.

Nah, apa yang membuat saya dan suami lebih memilih Sunflower?

Jawabannya karena kami rasa Langit dan Laut lebih bisa punya kesempatan berkembang dan juga (sepertinya) kans untuk pemilihan SD akan lebih terbuka lebar.

Diharapkan dengan bahasa pengantar Inggris, Langit & Laut bisa makin terasah kemampuan bahasanya. Pun mengenai SD yang saat ini pakai tes calistung, maka saya dan suami pikir kemungkinan Langit & Laut bisa meneruskan sekolah di SD “International” lebih besar.

Pertanyaan2 yang menghantui di saat menentukan pilihan adalah mengenai pengenalan agama dasar. Apakah sebegitu pentingnya calistung dalam Bahasa Inggris dibanding pengenalan agama?. Jawabannya tentu tidak. Dan akhirnya kami mengunakan kerangka berpikir bahwa agama harusnya diperkenalkan oleh orang tua.

Lagipula, rasanya dimulai dari SD juga oke aja.

Lalu, pertimbangan lainnya juga kesan yang saya dapatkan sewaktu trial.

Di BM400, saya merasa kurang mendapatkan input dari guru yang melakukan trial, baik kepada Langit dan Laut. Trial tidak dilakukan hingga waktu sekolah berakhir, jadi kesannya konklusi yang didapat juga nggak menyeluruh.

Sedangkan di Sunflower, saya merasa hari trial itu Langit & Laut beneran di trial, bahkan di “tes” apakah anak nya sudah mampu untuk keep up dengan “pelajaran” kelasnya, karena memang di Sunflower, TK A atau Kiddie 1 sudah mulai dikenalkan dengan sounds dari abjad nya (phonics).

Menurut teachers nya, lepas dari TK A, anak2 biasanya sudah bisa baca kalimat sederhana. Terkesan ambisius untuk anak TK?, well maybe.., tapi rabaan perasaan saya sih I’m owkay with it, as long FUN factor harus selalu menjadi pijakannya.

Tapi selalu ada kemungkinan kalau ternyata saya ini (memang) Ibu yang ambisius.., hehehe. Or Tiger mom, one would label.

Intinya adalah.., pilihlah sekolah yang sreg di hati dan yang anak2 suka.., tapi (tetep ada tapinya.., hehehe) jangan memungkiri kalau dunia ini emang udah nggak sama seperti 30 tahun lalu 😉

With this…, I’m welcoming myself di dunia sekolah..

After July 2016, still 17 years more to go :)) *keriting