Review: Green People Organic Toothpaste for Children

toothpaste_greenpeople

Negara Asal : Made In EU

Sertifikat: ECOCERT Organic Cosmetics, Vegan & Vegetarian Society Approved

Animal Rights : Not Tested on Animals, Cruelty Free

Recyclable plastic tube in cardboard box

12 months from Opening

Green People gives full ingredient disclosure on all products.

Ingredients

Spearmint & Aloe Vera: Calcium Carbonate (Dental Grade Chalk), Glycerin** (Vegetable Derived), Aqua (Pure Water), Betaine (Natural Plant Extract), Xanthan Gum (Corn Starch Gum), Aloe Barbadensis (Aloe Vera) Leaf Juice Powder*, Aroma [Mentha Piperita (Peppermint) Oil*^, Mentha Spicata (Spearmint) Oil*^, Commiphora Myrrha (Myrrh) Oil ^], Olea Europaea (Olive) Leaf Extract, Limonene.

Mandarin & Aloe Vera: Calcium Carbonate (Dental Grade Chalk), Glycerin** (Vegetable Derived), Aqua (Pure Water), Betaine (Natural Plant Extract), Xanthan Gum (Corn Starch Gum), Aloe Barbadensis (Aloe Vera) Leaf Juice Powder*, Aroma [Citrus Nobilis (Mandarin) Peel Oil*, Citrus Aurantium Dulcis (Sweet Orange) Peel Oil*, Commiphora Myrrha (Myrrh) Oil ^], Olea Europaea (Olive) Leaf Extract, Limonene, Linalool.

*Ingredients from Organic Farming, **Made Using Organic Ingredients ^Fairly Traded. Ecocert Organic – 100% of the total ingredients are from Natural Origin, 34% of the total ingredients are from Organic Farming

Sekarang gilirannya review pasta gigi yang dipakai oleh  LL yaa..

Mencari pasta gigi organik yang sesuai dengan selera anak-anak itu susah-susah gampang, apalagi dulu di usia awal anak-anak mulai pakai pasta gigi, cukup susah mencari pasta gigi organik di Indonesia, dan online shop juga belum menjamur seperti sekarang.

Perkenalan dengan produk Green People lagi-lagi ketika kami sedang berada di Inggris. Dari beberapa brand yang saya teropong ketika saya lagi cap cip cup milih pasta gigi buat anak-anak, akhirnya ketiga alasan utama inilah yang membuat saya lebih memilih Green People Organic Toothpaste dibandingkan dengan pasta gigi yang lain.

Pertama (tentu) karena bersertifikat ECOCERT Organic Cosmetic, kedua karena pasta gigi ini tidak mengandung fluoride (yay!),  dan alasan ketiga karena harganya relatif murah (Double Yay!)

Namun di luar dari 3 alasan utama tersebut, banyak alasan lainnya yang bikin pasta gigi ini layak dipilih –> dalam laman website mereka yang saya kutip ‘It is 100% natural and safe, free from SLS and fluoride. Removes plaque and reduces bacterial regrowth with a protective antioxidant action on gums. No hydrocarbon or aluminium contamination. Ingredients that we don’t use in our products made without fluoride, SLS, triclosan, sorbitol, parabens, methylisothiazolinone, methylchloroisothiazolinone, phthalates, artificial sweeteners, petrochemicals and colourants to bring you the purest children’s toothpaste that nature can offer’.

So it is nothing but good!, dan saya merasa salah pilih.

Dannnn…, seperti kayak nggak kehabisan alasan baik,  hal lagi yang bikin pasta gigi ini berhasil mencuri hati saya adalah nggak perlu di wash off…, it is Non-Toxic if swallowed by babies or children. LOOVVEE!!, like how cool is that!?, hihi.., because lets be honest.., if the kids loves the taste, there’s be a big chance that they’ll suck it off the brush, ya kann? :p

Untuk varian rasa, Green People Toothpaste mengeluarkan dua jenis varian, yaitu Mandarin & Aloe Vera (orange tube) serta Spearmint & Aloe Vera (Blue tube) *ingredients bisa diliat di atas yah..

Langit dan Laut lebih senang varian rasa Spearmint & Aloe Vera, saya agak kaget juga sih sebenarnya.., saya pikir harusnya spearmint menjadi varian yang “paling” tidak digemari.., karena spearmint kan versi menthol kadar rendah kalau dibandingkan dengan Peppermint.  Ternyata saya terlalu meremehkan “pria punya selera” Langit & Laut…, hihihihi. Saya pribadi berpendapat, kedua varian rasa sama-sama menyegarkan, cocok untuk menjadi batu loncatan bagi anak untuk nantinya lebih mudah beralih ke pasta gigi dewasa. So I think it is an excellent choice for children who dislike mint.

By the way.., saya selalu mencoba produk-produk yang digunakan oleh anak-anak, begitu juga dengan pasta gigi, paling nggak saya jadi tahu konsistensi kepadataan serta rasa dan after taste pasta gigi ini. Dari segi konsistensi kepadatan, Green People Organics cukup baik mengeksekusi, karena dari awal beli hingga sekarang, kepadatan pasta gigi dengan warna putih butek ini nggak berubah, so it’s a very good consistency. Tekstur juga tidak terlalu ringan, saya lagi mikir kata apa yang pas untuk menjabarkan si tekstur agar bisa lebih mudah di visualisasikan, clay-ish (if that even a word) or something like that.., hahhaha.., nggak jelas pisan.

3721523_97fabc3a-c535-11e3-9d66-f1b64908a8c2Sebagai perbandingan, saya pernah coba juga pasta gigi Baby Organics produk Australia yang konsistensi kepadatan dari batch satu ke batch lainnya kurang ok, kadang padatnya pas, kadang terlalu runny, begitupula dengan rasa,  kurang menyegarkan di mulut, berbeda dengan Green People Organic Toothpaste yang rasa spearmints, peppermints, dan orange nya cukup terasa, persis lah seperti yang dituliskan di website  mereka ‘Really fruity taste, great for encouraging kids to brush!yes yes yes, ada benarnya 🙂

Dengan semua nilai plus yang saya jabarkan, tentu kesimpulannya saya dan anak-anak suka dengan produk ini, one of the best yang udah pernah kita coba.., tapi tentu saya selalu terbuka untuk mencoba pasta gigi yang lain, karena saya sebenernya termasuk yang suka ganti-ganti merek – dengan standar yang sama tentunya ya…, dan dari hasil baca-baca, kayaknya Jack N’ Jill patut untuk dicoba.., tapi saya mau abisin stock Green People Toothpaste yang saya punya dulu deh, baru berpetualang dengan si Jack N’ Jill.  Oh iya.., semisal ada diantara kalian yang tertarik untuk coba, monggo saya dicolek yah.., I might have one or two spares on our bathroom cabinet to sell 🙂

Till next reviewAu Revoir!

*Photo nyomot dari website ini dan ini, karena kupikirsudahkufototernyatabelum dan kemudianterlalumalaskarenaudahtinggalpencetpublish :p

Advertisements

Review: dr. Organic Bio Active Oral Care

 

 

Negara asal : Inggris

Certification : NONE

Recycled Packaging

70% organic formulation

Use within 12 months from opening

Contains Sodium monofluorophosphate (a source of fluoride at 1000ppm)

Free From:

Harsh Chemicals (Parabens, SLS, Synthetic Colors, BHT, Phthalates, Petrolatum, Glycols, DEA, Isothiazolinones, Silicon)//Animal Ingredients//Animal Testing//Mineral Oil//Genetically Modified or engineered organisms

dr. Organic Promise:

  • Organic Ingredients – Strive to use organically grown ingredients. Where an organic ingredients cannot be used we will always source sustainable natural alternatives
  • Bioactive Ingredients – We use certified bioactive extracts to ensure each products is truly functional by nature
  • Natural Ingredients – are used in all formulations

Aloe Vera Ingredients:

Glycerin, Hydrated silica, Sorbitol, Aloe barbadensis leaf juice, Aqua, , Mentha piperita (Peppermint) oil, , Menthol, Cetraria islandica (Icelandic moss) extract, Sodium monofluorophosphate, Escin (from Horse chestnut), Xylitol, Citric acid, Limonene.

Tea Tree Ingredients:

Glycerin, Aloe barbadensis leaf juice, Sorbitol, Hydrated silica, Aqua, Sodium lauroyl sarcosinate, Mentha piperita (Peppermint) oil, Hydroxyethylcellulose, Melaleuca alternifolia (Tea tree) leaf oil, Menthol, Cetraria islandica (Icelandic moss) extract, Sodium monofluorophosphate, Escin (Horse chestnut), Xylitol, Sodium benzoate, Potassium sorbate, Citric acid.

My Story:

Dalam perjalanan membuat tulisan ini, saya akhirnya harus merombak total seluruh paragraf yang telah saya  buat. Ini menjadi pelajaran penting juga untuk saya dikemudian hari, bahwa sebuah review haruslah tetap dibarengi dengan pembekalan konten yang menyeluruh.

Salah satunya adalah penyusuri satu persatu isi dari kandungan yang ada di dalam produk, apalagi jika tidak ada label sertifikasi organik atau natural, seperti dr. Organic Bio Active Oral Care yang akan saya review.

This one particular thing bikin a bit off ya nggak?, makes you wonder although not surprise – memberi nama produk Organic tapi sertifikasi organiknya nggak ada…. *hmmmmm.

Sebenarnya ada pasta gigi yang sudah bersertifikasi natural atau organik, salah satunya pasta gigi dari Green People, anak2 saya  menggunakan children toothpaste nya sudah lebih dari 2 tahun – tapi review nya selalu nggak dibikin2.., hahahha..,  sedangkan saya dan suami beberapa waktu belakangan memang cukup “setia” menggunakan si dr. Organic ini.

Di tulisan saya yang lalu, Body Lotion dari dr. Organic sempat saya singgung juga, tapi memang ulasannya belum menyeluruh.., hutang review lagi deh ya.., hehe, sekarang saya review pasta giginya dulu..

Pasta gigi translucent ini bertekstur tidak jauh berbeda dengan pasta gigi konvensional dengan kepadatan yang pas. Ada 3 (tiga) varian rasa, dan dari 3 tersebut saya baru mencoba 2 (dua), Aloe Vera (natural anti-bacterial agent) untuk Whitening, Anti – Cavity and Soothing & Tea Tree (natural antiseptic) untuk Whitening, Anti-Cavity and Purifying. Buat saya after taste varian Tea Tree lebih fresh dan tahan lama dibandingkan dengan Aloe Vera, kayaknya sih perpaduan peppermint & tea tree lebih nendang daripada perpaduan peppermint dengan aloe vera..

Salah satu yang saya suka dari pasta gigi ini – selain mereka mengklaim bahwa produk mereka Non GMO (loovveee) – adalah kemasannya.., terdapat penjelasan yang cukup extensive, mulai dari ingredients hingga kandungan apa saja yang tidak terdapat di dalam produk pasta gigi mereka (seperti tampak pada foto di bawah ini)

dr organic 1

Pada kemasan dijelaskan juga mengenai penggunaan untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun (I assumed they wanted to state that their products are safe for children to use, but no.., I will not give my kids a try :p)

Berdasarkan yang tertera pada kemasan, pasta gigi dr. Organic mengandung Sodium monofluorophosphate (a source of fluoride at 1000ppm). Pemahaman saya bahan ini merupakan turunan dari Fluoride, tapi ewg.org menjabarkannya sebagai …an inorganic salt…”, serta memberikan score 2 alias nilai fair, dengan use of restriction yang cukup rendah – tidak sampai menyetuh titik moderat, jadi hingga ulasan ini di posting, saya sendiri masih bingung :~

Perlu dipahami bahwa Fluoride dan Triclosan, dua bahan yang banyak digunakan pada produk pasta gigi konvensional juga termasuk yang menjadi perdebatan aman atau tidaknya digunakan, tapi sebaiknya saya nggak bahas di postingan ini dan akan bikin postingan tersendiri mengenai Fluoride, Triclosan atau bahan kimia lainnya yang bisa dibahas mendalam dalam thread yang berbeda-beda. Saya kasih beberapa link yang pros and cons agar kalian bisa baca-baca sendiri dulu..

Fluoride:

Triclosan:

Saya dapat “memahami” alasan yang menyatakan bahwa penggunaan Fluoride ataupun Triclosan bisa membantu dalam pencegahan mengeroposan pada gigi (tooth decay), tapi saran saya (sebisa mungkin) hindarilah dua ingredients tersebut. Lebih banyak seremnya daripada manfaatnya (if any). Terus kan dr. Organic ini ada turunan fluoride nya, Git.., kenapa lo masih pake? <– I’ll explain this later

I strongly suggest always do your own research buat kandungan yang masih debatable, karena preferensi dan toleransi setiap individu tentunya berbeda-beda.

Selain dari Sodium Monofluorophospate, ada 3 kandungan di dalam dr. Organic yg menurut salah satu web merupakan kandungan yang patut masuk ke dalam kategori “sneaky ingredients”. Ketiga kandungan tersebut adalah Sodium lauroyl sarcosinate, berasal dari kelapa, berfungsi sebagai pengganti SLS (Sodium Laurel Sulfate), dan saya quote “may carry the same risks as SLS”, sedangkan Sodium benzoate dan Potassium sorbate  adalah pengganti Parabens yang berfungsi sebagai Pengawet (Preservatives) – masih terdapat pengganti Parabens lain yang dianggap lebih aman.

My personal stands.., I honestly need to study more about these findings and why these three being categorized as sneaky ingredients

Being said.., berlandaskan akan apa yang saya baca pada kemasan dan juga riset kecil2an , saya lumayan cukup happy lah, walaupun si turunan fluoride itu menjadi catatan penting yang harus digarisbawahi . Alasan kenapa saya masih pakai dr. Organic Oral Care adalah karena suami saya cocok dan seneng banget, kami sempat pakai beberapa merek lain, tapi suami saya “protes”, dia bilang pasta gigi lain bikin gusinya berdarah, sedangkan yang ini nggak terlalu :)), but between you and me…, saya rasa dia cuma sugesti aja, karena saya yakin gusi berdarah itu disebabkan plak berpuluh-puluh tahun yang nempel di giginya.., hahhahaha. — Yes, he never went to a dentist *shocking 

Thus, this review with my small research is the game changer. I will definitely buy and try new brand yang nggak ada jejak fluoridenya sama sekali, dan berharap suami saya bisa cocok dan bahagia.

I had several brands in mind already :p

 

Salam Hijau!

Review: Organic Surge Face Wash

Organic Surge

Negara asal : Inggris

Sertifikat : ECOCERT (98.89% of the total ingredients are from Natural origin. 22,1% of the ingredients are from Organic Farming), Vegan, Cruelty Free

Free From: Synthetic Fragrances//Parabeans//Silicones//PEGs//SLS & SLES//Artificial Colors//Animal-derived ingredients

Ingredients: Aqua/Water, Aloe Barbadensis Leaf Juice*, Sodium Coco-Sulfate, Cocamidopropyl Betaine, Glycerin**, Decyl Glucoside, Coco-Glucoside, Sodium Chloride, Benzyl Alcohol, Potassium Sorbate, Sodium Benzoate, Sodium Lauryl Glucose Carboxylate, Sucrose Laurate, Lauryl Glucoside, Pelargonium Graveolens Flower Oil*, Pelargonium Graveolens Oil, Alcohol Denat., Citric Acid, Tocopherol, Citronellol, Dehydroacetic Acid, Geraniol, Sorbic Acid. *ingredient from organic farming. **made using organic ingredients.

My Story:

Saya ingat sekali perasaan pertama ketika selesai mencuci wajah dengan sabun ini, rasanya kayak menemukan jodoh atau cinta yang selama ini dicari2.., lebay ya…, tapi emang asli selebay itu feel nya.

Perkenalan dengan brand Organic Surge ini ketika saya masih tinggal di Inggris, negara asal produk mereka. Perkenalannya juga secara nggak sengaja, alias nggak pake browsing2 dulu (as I usually do). Liat di rak toko, baca ingredients belakangnya lalu liat logo Ecocert, and I was sold instantly.

Seperti yang kita ketahui, ECOCERT* merupakan sertifikasi organic yang sudah sangat terpercaya di dunia karena memiliki standarisasi tinggi, maka sudah pasti Organic Surge ini brand yang nggak main2 dalam mengembangkan produk organiknya,, dan face wash ini cocok bagi pemeluk Vegan serta Cruelty Free  serta telah diuji pada kulit sensitif.

Berdasarkan pengalaman pribadi, pemakaian wajar untuk satu botol ukuran 200ml bisa untuk 8-10 bulan, sangat irit bukan..?, tekstur gel dan sistem pompanya jadi bikin irit pemakaian, satu kali pompa kira2 hanya sebesar ½ ukuran ruas jari telunjuk orang dewasa.

Untuk Shelf life produk, menurut info dari website mereka adalah selama 3 tahun, namun dari pemakaian pertama maka face wash ini disarakan untuk dihabisakan dalam waktu 12 bulan.

Walaupun tanpa alat bantu cuci muka seperti face cloth ataupun face brush, sabun ini tetap bisa menghasilkan busa, jangan ngarep busa kayak car wash tapi ya…, busa tipis aja, tapi secara psikologis cukup membantu serasa mukanya beneran lagi dibersihin pake sabun.., hahahaha.., kayaknya sih kalau pakai cloth atau brush akan lebih berbusa, karena itu yang terjadi dengan saya jika menggunakan Foreo Luna (alat cuci muka seperti foto di atas).

Sebenarnya cara saya mencuci wajah sehari-hari cuma pake tangan aja sama usep2 dikit, tapi kalau abis make-up an tebal atau sekiranya saya merasa wajah saya perlu dibersihkan lebih intensif lagi, baru deh saya combine Organic Surge ini dengan Foreo Luna saya.., dan emang kerasa bedanya sih dikulit, kalo pake Foreo Luna, kulit saya rasanya jadi lebih halus lagi dan kenyal.

Untuk kalian yang nggak terlalu gemar dengan wewangian Rose (Mawar), nggak perlu khawatir dengan kandungan Rose Geranium Oil di dalamnya, karena scent produk face wash ini sangat-sangat mild dan tidak akan membuat hidung kita serasa kayak lagi ditetesin rose oil..

Sekedar sharing juga.., adek saya sempat mengalami masalah jerawat yang cukup parah, hampir ¾ wajahnya ditutupin sama jerawat dan beruntusan kecil-kecil. Pada waktu itu padahal dia sedang dalam perawatan dengan dokter kulit, sudah berjalan 3 bulan dan wajahnya tidak ada perbaikan, bahkan bisa dibilang lebih buruk.

Sewaktu saya sedang main dan menginap di tempatnya, saya sarankan coba cuci muka dengan Organic Surge Face Wash ini, dan nggak usah lagi pakai obat2an dari dokter kulit. Dua hari di sana, dan berdasarkan pengakuannya sendiri, dia merasa kulit wajahnya jauh lebih baik dan beruntusan kecil2 di wajahnya pun berkurang sangat singnifikan. She fell in love instantly juga sama produk ini.

I can’t say enough about how good this product is. I am now on my second bottles, it’s so refreshing, doesn’t leave my skin dry, very moist and it maintains the suppleness of my skin. Not once I experience unpleasant skin problem on my face while I’m using this face wash.

Overall, it’s a happy purchase, a really happy one

Semisal ada pertanyaan mengenai produk ini, feel free to asked me yaaa.., mau (titip) beli di saya juga boleh, 🙂

Salam Hijau..

Armpit Best Friend is Deodorant

Tulisan ini dimulai dengan sense of jealousy terhadap orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan aroma/”bau” badan, karena I’m not that lucky :))

Saya masuk digolongan manusia yang tubuhnya butuh another aroma distractions, dan role itu presentasenya 50-50 antara Deodorant dan parfum.

Sepintas, jadi keinget sama masa-masa baju sekolah jadi kuning di bagian ketiak gara-gara percampuran antara deodorant dan keringat, hahahha, padahal dulu kayaknya udah pake merek yang paling keren deh tuh, Mark & Spencer.

Btw, sekarang deodorant yang ada di pasaran masih meninggalkan stain kuning nggak sih di baju?

Jika parfum lebih berfungsi menambah aroma harum pada tubuh, deodoran lebih berfungsi sebagai pengurang atau penghilang aroma tubuh yang kurang sedap, dan semenjak desas desus bahwa penggunaan deodorant disinyalir dapat menyebabkan kanker, saya udah mulai cari alternatif lain – ini bahkan sebelum saya mulai giat mengganti semua produk menjadi natural atau organik.

deocrystal

Saya pernah coba produk tawas dari L’occitane ini, tapi di saya, efek menyerap keringat produk ini kurang ok. Belum lagi tawas membutuhkan proses sebelum digunakan, basahin sedikit dengan air sampai agak lembab baru bisa digunakan.., kan agak repot ya kalau semisal lagi nggak deket sama air tapi odor emergency terjadi. Hihihihi..

Lalu, sewaktu di UK, saya coba pakai deodorant dari dr. Organic, seneng sih sebenernya dengan dr. organic ini, tapi apa daya di sini ndak ada yang jual, dan semenjak ada peraturan baru dari BPOM, masukin produk kecantikan dari LN sudah tidak semudah dulu.

dr organic deodorant

Permasalahan muncul ketika si dr. organik ini udah mau abis, saya cukup belingsatan nyari deodorant yang aman. Pernah lihat deodorant Young & Living, tapi meringis waktu tau harganya.., sedikit kemahalan buat budget saya – walaupun jika pada saatnya dr. organik beneran abis dan saya masih belum nemu juga penggantinya, mau nggak mau saya beli juga tuh Young & Living :))

Namun sebelum itu terjadi, saya dipertemukan dengan deodorant Bye-Bye Odor dari artisan lokal Peek.Me Naturals.

unnamed

Sewaktu mencoba testernya di DongengHutan#4, saya optimis Bye-Bye Odor bisa menjadi teman baik ketiak saya, dan optimisme tersebut dijawab dengan bukti selama pemakaian yang hampir berjalan dua minggu ini. Di saya,  bisa tahan sampai sekitar 14 jam – Saya malah ragu sama deodorant yang claim bisa bertahan 48 jam, serem mikirin apa aja bahan kimia yang dipake, hiiii…

Bye-Bye Odor berjenis kering dengan aroma segar yang dihasilkan dari perpaduan lebih dari 5 jenis 100% essential oils, dan meskipun belum ada sertifikasi organik (which I know how hard it is to earn one), tapi Peek.Me Naturals meyakinkan di website mereka jika produk ini bebas dari:

  •  aluminum (may contribute to the development of breast cancer and Alzheimer’s disease)
  •  paraben (possible cause of hormonal problems)
  •  propylene glycol (neurotoxin and skin irritant)
  •  phthalates (disrupts hormone receptors)
  •  SLS (skin irritant)
  •  fragrance (allergen and purely chemical compounds)
  •  triclosan (potential carcinogen)

Sungguh melegakan yaa mengetahui produk ini aman dari semua kimia-kimia serem itu. Semoga kedepannya produk-produk mereka bisa disertai dengan sertifikasi organik. For me personally, that would be Awesome!

Harga online 70rb untuk 15gr, kalau ditakar kemungkinan bisa untuk pemakaian 1-1 1/2 bulan.

With this happy experiment and experience, saya cukup percaya diri produk mereka yang lainnya tidak kalah baikdengan yang sudah saya gunakan.

So I’ll def going to check their website for more products, and you should too.

Challenge of the week.., Make your armpits happy, switch your commercial deodorants to the more Natural/Organic ones 🙂

Happy Green, Organic Freaks!

 

 

Kenapa tiba-tiba jadi rajin?

Rajin menulis dan mengupdate blog xD – padahal semenjak bikin blog ini 2 tahun yang lalu, baru 23 tulisan yang saya berhasil posting hingga saat sekarang.

Awal bikin blog ini di medio September 2013, sebelum ulang tahun Langit yang ke tiga tahun dan bertepatan dengan waktu plesir ke Bali selama 3 bulan, pada saat itu tujuan blog baru adalah untuk menceritakan pengalaman hidup di sana, ternyata enggak kesampean juga rencananya.., 3 bulan berjalan hanya menghasilkan satu tulisan saja >_<. Begitupun sebelum berangkat ke Bristol, harapan mau rajin nulis tentang keseruan hidup di negara orang, ujungnya sih kenyataan juga sebagai hasil akhir. Hahahahha.

Lumayan banyak sebab yang saya pikir menjadi alasan kenapa saya jarang menulis lagi di blog. Pertama pemikiran bahwa pada dasarnya saya ini memang pemalas, malas kerja, malas nulis, males capek :p. Seperti di Bristol, kalau (keliatannya) saya masak atau doing house chores, sebenernya  itu bukan karena saya rajin, tapi karena memang terpaksa harus gitu. *gubrak. 

Sebab kedua karena saya merasa uninspired buat menulis, padahal dulu waktu jaman Multiply, saya termasuk super rajin posting tulisan – which made me think that sadness must have got something to do with it, dulu kan jaman-jaman galau karena abis di tinggal mantan pacar dan juga galau sama pacar baru yang ternyata pacarnya orang lain *muka meringis, jadi blog itu semacam tempat curhat, penyaluran hormon dan terapi. Hihihi.., tapi konon, kesedihan itu disinyalir memang bisa lebih memicu kreatifitas seseorang. Ceunah, hehehe..

Kemudian ada masa-masa saya pikir saya nggak rajin nulis lagi itu dikarenakan kemanjaan saya yang susah berpaling dari menulis cara konvensional, yaitu pake laptop windows yang ada bunyi merdu keypad – sayangnya laptop windows saya udah terlalu urdu untuk bisa nyari sinyal wifi buat posting blog, saya pun seperti merasa “kesusahan” kalau harus nulis pake tablet (walaupun ada tambahan keyboard), apalagi handphone, bahkan pakai MacBook Pro si suami aja saya reluctant. Pokoknya mind set saya’pasti akan rajin nulis lagi kalau pake laptop windows’, titik :p

Namun, di waktu seminggu belakangan ini saya mendadak kembali menjadi produktif menulis. Cukup mengherankan juga darimana datangnya drive nulis ini.., tapi berbagai alasan di atas jadi bisa terpatahkan loh.., karena..

Ternyata saya enggak sepemalas itu dan ternyata saya bisa nulis tanpa stimulasi rasa sedih atau galau, pun ternyata saya (walau terkesan bodoh) bisa juga nulis blog pake macbook, bahkan saat ini saya sedang pake wordpress di iphone buat ngetik 😁. 

Lalu apa dong yang bikin dulu ‘nggak bisa’ dan sekarang bisa?, hhmmm…, mungkin karena beberapa kombinasi faktor juga, salah satu nya adalah kombinasi ‘nyuekin’ anak dan ada bantuan tenaga domestik di rumah xD.

Walaupun ini agak kurang solid argument nya, karena banyak banget ibu-ibu lain yang aktif menulis padahal nggak pakai helper dan punya anak segabrek, like seriously dude.., It’s quite intimidating actually.., how come mereka pada bisa??, How on earth??!,…or perhaps it’s because they’re not from around here.., aliens who have the ability beyond ordinary mommy like me.., well that explains! – monolog iri.

Tapi ya sudahlah, saya bebas ngasih pembenaran buat sikon saya ya kan..*maksa. LOL

Dahulu, walau ada bibi seperti sekarang, kondisi buat nyuekin nggak bisa diterapkan, karena Laut masih nyusu ASI dan demand nya dia krezi banget, sampe saya ikutan mau krezi, tabiat si adek Laut yang cepet cranky juga menambah kemeriahan suasana. Hahaha.., maka dari itu, kalaupun ada waktu luang nggak nyusuin, saya lebih milih buat leha-leha

Lalu selain kombinasi lethal di atas, ada faktor diri, yang mana saya, dalam hal menulis (ternyata)  hanya bisa mengerjakan hal satu itu saja tanpa multitasking skill yang diklaim milik wanita. I have it in me kok.., I mean I’m good at doing things that requires multitasking skillbut it’s suddenly disappear kalau sudah menyangkut menulis. Saya jenis Ibu-Ibu blogger yang butuh konsentrasi tingkat tinggi dimana distraction secuil upil bisa bikin mood buyar. Kayak nulis apaan aja yak.., padahal buat nulis blog doang, gimana kalau nulis makalah atau disertasi ?!, ngungsi ke Goa x))

Oh mannn.., the more I write, the more I realize that I’m just full of shit. Intinya sih banyak alesaaaann aja kaliii gueee….

😀

 

Helping tools

toxic-personal-care-products

Knowing all the harmful ingredients can be overwhelming, whilst reading the ingredients labels can be too.

Unless you have a gigantic memory inside your head, it is one  difficult task to memorize all those toxic ingredients. Therefor we need help, and thank God – or thank those people who initiated it,  there’s a solution, it is called technology :))

Ever since my enthusiasm on organic started, I began to search the reliable information sources, and here I share some of them.

For the all aspects of organics – from environment, foods, up to personal care/beauty product, we can get the latest informations and scientific researches and findings from EWG (environmental working group). EWG is a non profit organization dedicated to protect human health and the environment, influence policy to create a cleaner, greener, and healthier world. I strongly recommend you to visit this site.

Another reliable source is Savecosmetics, it is a campaign project of breast cancer fund, with aim to protect the health of consumers, workers and the environment through public education and engagement,corporate accountability and sustainability to eliminated dangerous chemicals. They also put on a list of chart summarizes the public-facing cosmetic safety policies, and restricted substances lists (RSL’s) of world’s 7 biggest cosmetic and personal care companies, such as P&G and Johnson & Johnson, Loreal and Unilever.

As to know how green or not personal care/beauty products are (one without organic certification), there are these handy tools. Three free apps that can be downloaded on your mobile phones or tablets, Healthy Living, Think Dirty and GoodGuide.

Healthy living

 This apps previously named skin deep developed by EWG. Skin deep only covers cosmetic & beauty products, whilst Healthy Living covers extensive range from beauty, foods, to households cleaners. It has search engine, browse by category and barcode scan features.

GoodGuide

GoodGuide apps is quite similar with what EWG has developed – with better and catchy design.  This apps covers from foods, households to personal care inside U.S with more than 200,000 products on their database.

Think Dirty

Last one is Think Dirty, a new comer launched in late 2013.There is a sign in feature which I think is cool, ‘cos then I know what’s my bathroom shelf scores :)) – it will generate a score based on what kind of personal care products we have in our bathroom, it’s what makes this apps rather different from the previous two. With 449,430 products on its database, this new comer surely catching up with its predecessors.

Below, I input two products that are commonly used in Indonesia on those three apps .

 
Reverse clockwise : Healthy Living – Think Dirty – Good Guide

img_3105

Top to bottom : Think Dirty – Healthy Living – Good Guide

As you can see on above pictures, every apps gave different scores for the same products. This is because each have their own standards. Do kindly read what kind of methodologies they are using, how they collected their data and how they designed their rating systems. In the end it’s basically down to your own preferences on which apps you think suits and accommodate you best.

I have to point out that in Indonesia, this apps perhaps only comes handy or works best for imported products or “sister” – similar products from multi billion dollar cosmetic and personal care companies :(, but it still is something very useful, and I very much appreciate all the helps:)

Sekaranh cobalah di install dan di buka-buka link yang saya kasih di atas ya. Selamat membaca dan selamat semangat nge search dan scan produk-produk di kamar mandi dan di atas meja rias kalian, hihihi *emoticon singsing lengan baju x)

 

(Mencoba) menjadi

Organic Enthusiast.

Saya selalu menulis itu di setiap bio media sosial yang saya miliki. Because I am proud to be one.., walaupun antusiasnya baru sebatas pada penggunaan produk personal care dan households saja – saya belum sepenuhnya mengganti household cleaner saya dengan yang organik – walau sudah niat jika nanti kembali ke apartemen semua harus sudah organik/natural 🙂

Kemarin malam mikir-mikir apa yang membuat saya dulu mulai tertarik sama organic beauty products ini 3 tahun yang lalu. Kayaknya sih karena saya liat instagram seseorang yang pakai produk organik, dan dari situ saya mulai banyak baca untuk cari tahu, dan langsung parno.

Keparnoan itulah yang bikin saya bener-bener nggak mau lagi membeli produk-produk dengan kandungan kimia yang berbahaya bagi tubuh saya dan keluarga, specially for my kids.

Karena tahukah anda?, bahwa hanya butuh waktu 26 detik bagi bahan-bahan yang terkandung di dalam produk personal care yang kita pakai untuk sampai di blood stream. Berbeda dengan makanan yang kita konsumsi, jaringan kulit kita tidak memiliki saringan untuk mengurai toxic dari bahan-bahan tersebut.

26 seconds

http://www.slideshare.net/BeautiflyPure

 

Mengetahui fakta tersebut, adalah bijaksana kalau kita mulai memperhatikan jenis produk personal care yang kita gunakan aman atau tidak, apalagi jika membaca kutipan artikel dan fakta lain di bawah ini.

A study published in the American Journal of Public Health looked into the skin’s absorption rates of chemicals found in drinking water. It showed that the skin absorbed an average of 64% of total contaminant dosage.1 Other studies found the face to be several times more permeable than broad body surfaces and an absorption rate of 100% for underarms and genitalia.2 And another peer-reviewed study showed 100% absorption for fragrance ingredients.3  (http://www.downtoearth.org/health/general-health/your-skin-it-absorbs)

Sebagian besar produk personal care konvensional yang biasa kita temui di rak supermarket mengandung bahan kimia yang berbahaya. Dari beberapa studi yang telah dilakukan, didapat fakta bahwa beberapa banyaaaakkk kandungan kimia (+ dari 10,000 kandungan kimia) yang ada di dalam personal care bersifat karsinogen (zat penyebab kanker), pesticides, reproductive toxins, and hormone disruptors.

Pernah berpikir tidak?, kenapa dokter kulit kalau mau kasih resep obat biasanya nanya sedang hamil apa enggak. Itu karena fakta tadi, bahwa kandungan bahan yang kita oles di kulit langsung diserap oleh darah, dan bagi Ibu hamil, kandungan bahan-bahan tersebut juga akan diserap dan dibawa oleh umbical cord atau tali pusat bayi ;(

Sounds scary right?

It’s good if you could find personal care products that are organic and certified. But if not, don’t be too stress. Jadi organic enthusiast juga tidak lantas menjadikan saya organic freak kok. Saya masih bisa kompromi sama produk yang saya rasa aman walaupun tidak ada sertifikasi organiknya, selama di label dengan jelas mencantumkan bahwa produk tersebut tidak mengandung bahan berbahaya seperti di bawah ini – The most toxic 10.

toxic10

http://www.chemicalfreelife.tumblr.com

Sebagai tambahan, fluoride juga bahan yang patut dihindari di dalam pasta gigi ya, concerns nya sama dengan kandungan lainnya di atas.

Satu hal lagi yang bisa menjadi pertimbangan beralih, selain meningkatkan awarness terhadap tubuh kita dan anak-anak kita, penggunaan produk organik juga membantu meningkatkan awarness terhadap kelangsungan bumi yang kita pijak ini.

Now that sound right!

Salam hijau 🙂